
Sawit membawa kami maju. Tugas kami sekarang adalah menjaga arah perubahan itu, supaya kami tetap punya masa depan yang lebih baik
Donatus Ketua Koperasi ill say (Foto: IPS)
Muting — Perubahan sering datang perlahan, tetapi di Muting, ia hadir dengan wajah yang jelas. Melalui program plasma dan tata kelola koperasi, masyarakat adat kini memasuki babak baru ekonomi perjalanan yang menghubungkan kearifan lokal dengan sistem pengelolaan modern.
Kunjungan media ke Koperasi KPPS ill Say Mandiri pada Selasa (25/11/2025) menjadi jendela penting untuk melihat perubahan tersebut. Donatus B. Mahuze, Ketua Koperasi, menyambut rombongan media dengan satu kalimat:
“Dulu hidup kami bergantung pada alam, sekarang sawit membantu kami menguatkan ekonomi keluarga.”
Dulu, masyarakat mencari penghidupan dari apa pun yang bisa disediakan alam menangkap ikan, mencari hasil hutan, dan berburu. Kini, mereka memiliki pendapatan rutin, bukan hanya dari gaji sebagai pekerja plasma, tetapi juga dari passive income sebagai anggota koperasi.
Menurut Donatus, setiap anggota keluarga marga yang berusia di atas 18 tahun otomatis menjadi anggota koperasi. Skema ini memungkinkan masyarakat memiliki dua sumber penghidupan: pendapatan tetap dari pekerjaan, dan pembagian hasil usaha yang diterima secara berkala.
“Kalau jadi anggota koperasi, kami punya passive income. Kalau bekerja di plasma, ada gaji tambahan. Sekarang masyarakat Muting bisa merencanakan pengeluaran, bukan sekadar menunggu hasil alam,” jelasnya.
Tanda perubahan terlihat jelas di kampung: rumah yang direnovasi, kendaraan bermotor yang semakin banyak, dan tingkat konsumsi yang mulai berubah. Kepercayaan diri masyarakat tumbuh bukan hanya untuk hidup hari ini, tetapi untuk menata masa depan.
Namun, perubahan besar juga membawa tantangan baru.
“Yang kami butuhkan sekarang adalah pelatihan mengatur uang,” kata Donatus, lugas.
“Pendapatan sudah ada. Kemandirian sudah ada. Tapi pengelolaan keuangannya yang perlu kami pelajari.”
Ia menegaskan bahwa edukasi keuangan menjadi kunci keberlanjutan ekonomi masyarakat. Bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena perubahan ekonomi yang cepat menuntut penyesuaian pola pikir.
Koperasi KPPS ill Say Mandiri, yang dipimpin Donatus bersama Hermen Mahuze (Sekretaris) dan Emanuel Mahuze (Bendahara), kini menjadi salah satu pusat penggerak ekonomi warga Muting. Melalui sistem manajemen yang lebih tertata, plasma bukan hanya skema bagi hasil, tetapi telah menjadi alat penguatan identitas ekonomi baru ekonomi yang berbasis pada kerja, solidaritas, dan tata kelola bersama.
“Sawit membawa kami maju. Tugas kami sekarang adalah menjaga arah perubahan itu, supaya kami tetap punya masa depan yang lebih baik,” tutup Donatus. (LBS)