Ketika Masa Depan Terbenam di Dasar Botol: Jeritan Hati Tanah Malind

Kurangnya perhatian dari pemangku kepentingan membuat tidak ada kontrol terhadap peredaran minuman keras

Tokoh adat Suku Malind, Isaias Y. Ndiken, menyuarakan keresahan mendalam atas maraknya peredaran miras dan kriminalitas yang melibatkan anak muda

Di ujung timur negeri, Merauke menyimpan harapan bagi lahirnya generasi emas Papua Selatan. Namun harapan itu perlahan pudar, tenggelam di dasar botol miras yang semakin mudah diperoleh. Di balik setiap tindakan kriminal, keributan, dan kekerasan yang terjadi, ada wajah-wajah muda Papua yang kehilangan arah dan pegangan hidup.

Tokoh adat Suku Malind, Isaias Y. Ndiken, menyuarakan keresahan mendalam atas maraknya peredaran miras dan kriminalitas yang melibatkan anak muda. Baginya, persoalan ini bukan sekadar tentang minuman keras, tetapi tentang generasi yang hilang karena dibiarkan tanpa masa depan.

 “Kurangnya perhatian dari pemangku kepentingan membuat tidak ada kontrol terhadap peredaran minuman keras,” tegasnya saat diwawancarai di kediamannya, Selasa (4/11).

Isaias menggambarkan kondisi pilu generasi muda Papua Selatan yang datang dari kampung dengan harapan mengubah nasib, namun justru terseret arus kota.

Banyak di antara mereka datang dengan kondisi SDM yang rendah, tanpa keterampilan dan tanpa arah. Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, miras menjadi pelarian.

 “Mereka datang dari kampung sudah SDM sangat rendah. Tidak ada lapangan pekerjaan, tidak ada pengakuan dari pemerintah,” ungkap Isaias.

Bagi mereka, kota yang dijanjikan sebagai ruang harapan justru berubah menjadi tempat yang membuat mereka merasa tak berarti.

Isaias menyebut ini sebagai proses pembiaran yang panjang dan disengaja, karena negara hadir tetapi tidak benar-benar memanusiakan mereka.

“Mereka benar-benar tidak dianggap berharga di mata pemerintah,” katanya lirih.

Isaias menilai bahwa persoalan ini bukan hanya kesalahan pemerintah. Institusi adat dan gereja yang seharusnya menjadi benteng nilai, moral, dan karakter pun ikut gagal menjalankan peran pembinaan.

“Gereja gagal. Adat gagal. Semua yang seharusnya menjaga mereka, tidak lagi berfungsi,” ucapnya dengan mata yang tampak menyimpan keprihatinan mendalam.

Ia menilai, jika kondisi ini dibiarkan, maka generasi muda Papua Selatan akan semakin jauh kehilangan jati diri dan arah hidup.

Isaias meminta aparat keamanan, pemerintah daerah, DPRK, Tokoh Adat, Tokoh Agama dan Majelis Rakyat Papua Selatan (MRPPS) untuk tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Menurutnya, mayoritas kejadian kriminal melibatkan anak muda yang sejatinya adalah aset masa depan Papua Selatan.

 “Bagaimana kita mau membangun Papua Selatan kalau generasi mudanya saja seperti ini?” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pencegahan miras hanyalah pintu masuk, tetapi akar persoalannya lebih dalam:

kegagalan pendidikan, ekonomi, pembinaan sosial, serta hilangnya pelindung budaya dan iman di tengah generasi muda.

Isaias mengajak semua pihak untuk bergerak: pemerintah, aparat, gereja, lembaga adat, sekolah, dan keluarga. Menurutnya, tidak ada lagi waktu untuk saling menyalahkan solusinya adalah kembali memanusiakan manusia Papua.

 “Semua pihak harus mengambil bagian. Mengawasi, mencegah, bahkan menghentikan peredaran miras di Merauke yang kita cintai ini,” tutupnya.

Karena masa depan Papua Selatan tidak boleh dibiarkan hilang hanya karena generasi mudanya terbenam dalam gelapnya miras dan pembiaran. (JR)


Editor: JR

AGENDA
LINK TERKAIT