Lebih dari Sekadar Reses: Pelatihan yang Menghidupkan Harapan di Kampung Asset

Anggota DPR Papua Selatan Supia L. Kwamtaghai, menjadikan reses ketiganya sebagai momentum penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan komputer dasar dan public speaking. Fokusnya bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi menciptakan “aset” berupa pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan terus-menerus oleh masyarakat.

Foto bersama saat pelatihan (Foto: istimewa)

Mappi, 28 Maret 2026 – Bagi sebagian masyarakat, reses anggota dewan identik dengan kunjungan singkat, dialog aspirasi, lalu pembagian bantuan yang habis dipakai. Namun di Kampung Asset, Distrik Syahcame, Kabupaten Mappi, pendekatan itu diubah menjadi investasi jangka panjang: peningkatan keterampilan anak muda agar mampu bersaing di dunia kerja dan mengelola administrasi kampung secara mandiri.

Anggota DPR Papua Selatan jalur afirmasi, Supia L. Kwamtaghai, menjadikan reses ketiganya sebagai momentum penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan komputer dasar dan public speaking. Fokusnya bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi menciptakan “aset” berupa pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan terus-menerus oleh masyarakat.

Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari 7 laki-laki dan 8 perempuan mengikuti pelatihan selama dua minggu, 11–23 Maret 2026. Peserta merupakan anak muda setempat yang sebagian besar lulusan SMA dan belum melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Seleksi dilakukan langsung oleh Pastor Paroki setempat, menyesuaikan kebutuhan riil generasi muda di kampung tersebut.

Program pelatihan dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Papua Mandiri, yang telah berpengalaman selama enam tahun memberikan pelatihan keterampilan di wilayah Papua Selatan.

Akses Terbatas, Semangat Belajar Tinggi

Perjalanan menuju Kampung Asset tidak mudah. Tim harus menempuh jarak sekitar 625 kilometer melalui rute darat dan sungai: Merauke – Asiki – Bade – Asset. Dari Merauke ke Asiki menggunakan kendaraan selama enam jam, dilanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Digoel menggunakan speedboat menuju Bade, sebelum akhirnya menggunakan perahu fiber menuju Kampung Asset.

Keterbatasan transportasi udara, terutama menjelang Idul Fitri, membuat tim memilih jalur darat dan sungai yang memakan waktu dua malam perjalanan.

Setibanya di kampung, pelatihan dilaksanakan di kantor kampung yang selama ini jarang digunakan karena keterbatasan kemampuan administrasi berbasis komputer. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama pelatihan digelar, agar aparat kampung maupun generasi muda mampu memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia.

Pelatihan berlangsung setiap hari pukul 09.00–17.00 WIT dengan materi pengenalan komputer, pengolahan dokumen menggunakan Word, hingga pengenalan Excel. Kelas public speaking diberikan pada sore hari untuk melatih kepercayaan diri peserta.

Meskipun keterbatasan listrik menjadi tantangan, antusiasme peserta tetap tinggi. Pelatihan mengandalkan genset sebagai sumber listrik, dengan kebutuhan sekitar 3 liter bensin per hari untuk mengoperasikan 16 laptop. Bahkan peserta meminta tambahan kelas malam hari, meski keterbatasan daya listrik menjadi kendala.

Hasil Nyata: Dari Tidak Pernah Mengoperasikan Komputer hingga Mampu Membuat Dokumen

Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta baru pertama kali menggunakan komputer. Namun dalam waktu singkat, kemampuan mereka berkembang pesat. Peserta tidak hanya belajar membuat surat, tetapi juga mulai memahami penggunaan tabel di Excel.

Pada penutupan kegiatan, peserta mampu menyusun acara secara mandiri sebagai bagian dari praktik public speaking. Mereka mengambil peran sebagai MC, pembaca puisi, pembawa kesan pesan, hingga memandu lagu.

Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga memperkuat rasa percaya diri dan kebanggaan identitas lokal. Peserta mengenakan busana adat Auyu saat penutupan kegiatan, menunjukkan semangat memadukan budaya dengan kemampuan modern.

Sebagai tindak lanjut, Supia menyerahkan dua unit laptop agar peserta dapat terus belajar secara mandiri setelah pelatihan selesai.

Kampung Asset dan Potensi yang Terus Tumbuh

Kampung Asset merupakan wilayah yang masyarakatnya sebagian besar hidup dari hasil sadap karet, usaha yang telah diwariskan selama tiga generasi sejak era Belanda. Harga karet berkisar Rp9.000–Rp13.000 per kilogram, tergantung kualitas.

Selain menyadap karet, masyarakat juga menggantungkan hidup dari hasil kebun, perikanan, dan hasil hutan. Infrastruktur kampung relatif baik dengan jalan yang cukup luas serta lapangan kampung yang menjadi pusat aktivitas warga.

Melalui pelatihan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya bergantung pada sektor tradisional, tetapi juga memiliki peluang baru melalui peningkatan kemampuan digital.

Investasi SDM Jadi Kunci Perubahan

Dalam sambutannya, Supia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman yang bergerak cepat. Ia juga mendorong pemerintah kampung untuk mulai mengalokasikan anggaran peningkatan kapasitas SDM berbasis digital, baik bagi aparat kampung maupun generasi muda.

Pendekatan reses berbasis pelatihan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek fisik. Investasi pada manusia menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu mengelola potensi kampung secara berkelanjutan.

Dengan keterampilan dasar komputer dan kemampuan berbicara di depan publik, anak muda Kampung Asset kini memiliki bekal awal untuk membuka peluang baru, baik dalam dunia kerja maupun dalam mengembangkan pelayanan di kampungnya sendiri.

Lebih dari sekadar reses, kegiatan ini menjadi contoh bahwa peningkatan kualitas manusia dapat menghadirkan harapan baru bagi masa depan Papua Selatan. (**)

AGENDA
LINK TERKAIT