Mahasiswa Tuntut Kepastian Wisuda dan Transparansi Dana, Rektor Unmus Buka Dialog 4x24 Jam

Pihak rektorat kemudian membuka ruang dialog dengan mengundang perwakilan mahasiswa untuk mengikuti pertemuan langsung di dalam kampus. Langkah ini diambil agar pembahasan dapat berlangsung lebih fokus, efektif, dan kondusif tanpa mengganggu aktivitas akademik secara keseluruhan.

Pertemuan Dosen dan Mahasiswa (Foto: IPS)

Merauke, 22 April 2026 — Kepastian jadwal wisuda, transparansi dana organisasi mahasiswa, serta perbaikan fasilitas kampus menjadi tuntutan utama ratusan mahasiswa Universitas Musamus (Unmus) yang menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung rektorat, Rabu (22/4/2026).


Aksi berlangsung damai dan dikoordinir oleh koordinator lapangan, Sultan Hasanuddin, yang memimpin penyampaian aspirasi mahasiswa secara terbuka di halaman rektorat.


Mahasiswa membawa dan membacakan Pakta Integritas berisi sejumlah tuntutan, di antaranya kepastian jadwal wisuda tanpa penundaan, percepatan pelantikan pejabat pelaksana tugas menjadi definitif, serta transparansi penyaluran dana organisasi kemahasiswaan, dana hibah, dan bantuan pendidikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang disebut belum diterima sebagian mahasiswa.


Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kondisi fasilitas kampus yang dinilai belum memadai, mulai dari ruang kelas, perangkat pembelajaran, hingga sarana pendukung lainnya. Mereka turut meminta klarifikasi pihak rektorat terkait isu yang beredar di media sosial mengenai dugaan pengelolaan dana proyek bernilai besar.


Sebagai bentuk keseriusan tuntutan, mahasiswa memberikan batas waktu 4x24 jam kepada pihak kampus untuk memberikan respons resmi.


Di tengah aksi, perwakilan rektorat melalui Wakil Rektor I Tobias Nggaruaka menyatakan bahwa aksi mahasiswa merupakan bagian dari dinamika demokrasi di lingkungan kampus.


“Ini bagian dari demokrasi dan penyampaian aspirasi. Kami membuka ruang diskusi, dan perwakilan adik-adik dapat menyampaikan langsung poin-poinnya kepada Bapak Rektor,” ujarnya di hadapan massa aksi.


Pihak rektorat kemudian membuka ruang dialog dengan mengundang perwakilan mahasiswa untuk mengikuti pertemuan langsung di dalam kampus. Langkah ini diambil agar pembahasan dapat berlangsung lebih fokus, efektif, dan kondusif tanpa mengganggu aktivitas akademik secara keseluruhan.


Pertemuan antara perwakilan mahasiswa dan pihak rektorat selanjutnya berlangsung secara tertutup, dengan akses media dari luar yang dibatasi.


Hingga aksi berakhir, situasi tetap berjalan kondusif. Mahasiswa membubarkan diri dengan tertib sembari menunggu hasil dan tindak lanjut dari dialog yang telah dilakukan.


Aksi ini mencerminkan meningkatnya tuntutan mahasiswa terhadap transparansi, akuntabilitas, serta kualitas layanan pendidikan, yang dinilai berdampak langsung pada kepastian studi dan masa depan lulusan. (Tom)

AGENDA
LINK TERKAIT