
Kalau tahun ini di Kimaam, tahun depan bisa di distrik lain
Ketua dan Sekertaris
Merauke, Info Papua Selatan – Turnamen Maskura Cup I Tahun 2025 siap digelar di Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, mulai 25 Oktober hingga 16 November 2025. Ajang ini menjadi wadah pembinaan bakat sekaligus pemantik semangat bagi generasi muda Orang Asli Papua, khususnya masyarakat Marind.
Menager Maskura, Moses Yeremias Kaibu, yang juga Ketua Komisi IV DPR Papua Selatan, menjelaskan bahwa turnamen ini berangkat dari niat tulus menghadirkan kegiatan positif di wilayah Orang Marind yang selama ini jarang tersentuh.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan aktivitas yang bernilai positif bagi kaum muda, khususnya Orang Asli Papua di wilayah Marind, mulai dari Mulianim hingga Kimaam,” ujar Moses dalam konferensi pers di Kantor DPR Papua Selatan, Rabu (8/10/2025).
Ia menegaskan, selama ini kegiatan olahraga dan pembinaan sering terpusat di Kota Merauke, sehingga masyarakat di distrik-distrik belum banyak merasakan manfaatnya.
“Selama ini rata-rata kegiatan hanya di sekitar kota, tidak berdampak langsung bagi kami Orang Asli Papua. Padahal pembangunan manusia bisa tumbuh lewat dua hal: pendidikan dan olahraga,” tambahnya.
Turnamen yang akan diikuti 16 tim dari delapan distrik — Okaba, Kimaam, Tubang, Ilwayab, Padua, Kontuar, Tabonji, dan Waan — mendapat dukungan penuh dari Gubernur Papua Selatan Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T. serta Bupati Merauke Dr. Yoseph Gebze, S.H.
Moses menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah yang memungkinkan kegiatan ini terlaksana di lapangan Maskura, Distrik Kimaam.
“Kami mendapat dukungan luar biasa dari Pak Gubernur dan Pak Bupati. Ini menunjukkan perhatian nyata pemerintah terhadap pembinaan olahraga di wilayah Orang Asli Papua,” tuturnya.
Menurut Moses, antusiasme masyarakat begitu besar. Sejak rencana Maskura Cup diumumkan, terjadi penurunan signifikan aktivitas mabuk-mabukan di kalangan pemuda.
“Sebelum wacana Maskura Cup, anak-anak muda banyak mabuk. Tapi sejak kegiatan ini mulai disosialisasikan, kebiasaan itu berkurang drastis. Ini bukti bahwa masyarakat sebenarnya rindu disentuh lewat kegiatan yang positif,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pertandingan, Maskura Cup dimaksudkan sebagai sarana membangkitkan jiwa dan kebanggaan masyarakat Papua.
“Selama ini pembangunan lebih banyak bersifat fisik. Padahal jiwa manusia juga perlu dibangun. Dengan kegiatan seperti ini, mereka merasa diperhatikan, semangatnya bangkit kembali,” kata Moses.
Ia berharap turnamen ini menjadi agenda tahunan dan menginspirasi wilayah lain untuk melaksanakan kegiatan serupa di tingkat distrik.
“Kalau tahun ini di Kimaam, tahun depan bisa di distrik lain. Supaya distrik tidak lagi dianggap kampung, tapi pusat kehidupan dan pemerintahan kecil yang hidup,” pungkasnya. (Tom)
Editor: Ronald