Menuju Nakias: Saat Jalan Darat Membawa Biaya Tak Terduga

Awalnya saya mau jalan ikut penyebrangan bian. Tapi karena ingin ikut darat saya mau coba ikut jembatan tamulik

Kondisi jalan yang di kampung nakias (Foto: IPS)

Info Papua Selatan – Merauke. Perjalanan darat menuju Nakias kini menjadi pilihan menarik bagi sebagian warga Merauke. Jalur yang dapat dilalui via Jembatan Tamulik tersebut menawarkan sensasi perjalanan yang menyenangkan, dengan hamparan alam yang memanjakan pandangan. Namun, di balik pesona itu, tersembunyi ironi yang tak banyak diketahui pengguna jalan: biaya ekstra yang harus dikeluarkan ketika melewati beberapa spot yang belum memiliki akses jembatan.

Bukan sekadar biaya kecil, tetapi nominal yang seakan tidak memiliki standar harga. Tarifnya bisa berubah kapan saja, tanpa aturan dan tanpa lembaga yang mengaturnya. Bagi sebagian warga, ini menjadi risiko yang harus diambil ketika memilih jalur darat dibanding jalur laut.

Salah satu pengendara bermotor, Gabriel, merasakan langsung pengalaman tersebut ketika hendak menuju Nakias. Ia mengaku awalnya ingin menggunakan jalur penyebrangan bian, namun memilih mencoba melewati Jembatan Tamulik.

 “Awalnya saya mau jalan ikut penyebrangan bian. Tapi karena ingin ikut darat saya mau coba ikut jembatan tamulik,” ujarnya saat ditemui di perjalanan, Rabu (12/11) lalu.

Namun pilihan itu membuatnya harus merogoh kocek dalam-dalam. Hanya untuk menyeberangkan motor sejauh 25 meter di area yang tidak memiliki akses jembatan, Gabriel dikenakan biaya Rp300.000. Baginya, itu adalah biaya tidak terduga yang menjadi tantangan tersendiri.

Tidak hanya di satu titik. Setidaknya terdapat tiga spot yang memungut biaya berbeda bagi pengguna jalan darat. Setelah melewati Jembatan Tamulik, terdapat jembatan buatan masyarakat dengan tarif Rp150.000 per motor. Lalu sebelum masuk Kampung Kwensip, kembali dikenakan tarif Rp300.000.

 “Ya.. memang ada banyak biaya yang perlu saya keluarkan untuk perjalanan itu,” kata Gabriel.

Kisah Gabriel ini menggambarkan bahwa perjalanan darat menuju Nakias memang memikat, namun mengandung konsekuensi biaya yang harus dipertimbangkan. Pengguna kendaraan bermotor harus memilih dengan bijak: ingin menghemat biaya dengan jalur laut, atau merasakan tantangan sekaligus kenyamanan jalur darat lewat Jembatan Tamulik—meski dengan pengeluaran ekstra.

Pada akhirnya, perjalanan ini meninggalkan sebuah pertanyaan bagi masyarakat dan pemerintah: akankah jalur darat ini segera memiliki standar tarif yang jelas, atau tetap menjadi pengalaman berbiaya tinggi tanpa kepastian?

Semuanya kembali kepada Anda, para pengendara dan pelintas Nakias. Semoga perjalanan Gabriel memberi gambaran jelas bahwa menempuh jalur darat bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal kesiapan finansial. Selamat memilih jalur perjalanan Anda. (JR)

AGENDA
LINK TERKAIT