
Kan selama 10 tahun melakukan riset, dan dua tahun ini pembibitan lalu mulai tahun ini penanaman untuk produksi di tahun depan,” katanya.
Foto bersama
Merauke – Proyek perkebunan tebu dan pabrik gula yang sedang dikembangkan di Kabupaten Merauke mulai memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Hingga saat ini, sekitar 3.500 karyawan telah direkrut dan bekerja dalam proyek yang berlokasi di Kampung Seramayam, Distrik Tanah Miring tersebut.
Hal itu disampaikan Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, kepada wartawan usai menjadi pemateri dalam diskusi publik bertema PSN dan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakan Barisan Merah Putih (BMP) RI bekerja sama dengan BMP Kota Jayapura di Lantai 9 Kantor Gubernur Papua, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Apolo, perusahaan tebu saat ini masih berada pada tahap pengembangan setelah menjalani riset selama sekitar 10 tahun dan dua tahun masa pembibitan.
“Kan selama 10 tahun melakukan riset, dan dua tahun ini pembibitan lalu mulai tahun ini penanaman untuk produksi di tahun depan,” katanya.
Ia menjelaskan, empat pabrik pengolahan saat ini sedang dibangun dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Setelah pembangunan rampung, produksi perdana direncanakan dimulai pada tahun 2027.
Seiring dimulainya operasional pabrik, kebutuhan tenaga kerja juga akan terus meningkat. Pemerintah memperkirakan kebutuhan tenaga kerja akan mencapai sekitar 15.000 orang saat seluruh fasilitas beroperasi secara maksimal pada 2029.
“Kami sudah panggil pihak perusahaan dan pelaksana, supaya dalam melakukan rekruitmen tenaga kerja itu mengutamakan orang asli Papua (OAP),” ujarnya.
Apolo menegaskan bahwa prioritas perekrutan harus diberikan kepada Orang Asli Papua, baik yang berasal dari wilayah Papua Selatan maupun provinsi-provinsi lain di Tanah Papua.
Proyek perkebunan dan pabrik tebu di Merauke merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan menjadi sentra produksi gula dan bioetanol terbesar di Indonesia Timur. Pengembangan kawasan ini melibatkan sejumlah korporasi swasta, termasuk PT Global Papua Abadi (GPA) yang berada di bawah naungan Merauke Sugar Group.
Dalam kesempatan yang sama, Apolo menilai diskusi publik yang digelar BMP RI tersebut menjadi ruang penting untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat terkait berbagai program pembangunan strategis yang sedang dijalankan pemerintah.
“Diskusi ini sangat bagus untuk kita mengklarifikasi isu-isu yang berkembang di masyarakat melalui berbagai media baik cetak, elektronik, dan media sosial,” katanya.
Menurutnya, forum tersebut juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat memperoleh informasi yang berimbang mengenai berbagai isu yang berkembang seputar PSN.
Selain itu, pemerintah juga dapat menjelaskan secara langsung tujuan serta manfaat program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten dan kota di Tanah Papua.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Barisan Merah Putih dan juga kepada panitia yang menyelenggarakan kegiatan ini,” ujarnya.
Apolo berharap mahasiswa dan masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dari para narasumber yang hadir.
Ia menambahkan, berbagai masukan dan tanggapan yang disampaikan peserta diskusi sesuai kondisi faktual di lapangan akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam pelaksanaan program-program pembangunan berikutnya.
“Ini akan menjadi laporan kami dan juga bagian dari evaluasi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan selanjutnya,” tambahnya. (*)