
Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th. dalam sambutannya menekankan makna spiritual Merauke sebagai wilayah “pinggiran” yang justru menjadi tempat Tuhan memulai sesuatu yang baru
Foto bersama (Sumber Foto: Humas Pemprov)
Merauke – Papua Selatan menjadi pusat perhatian nasional setelah Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Tahun 2026 resmi dibuka di Kota Merauke. Forum tertinggi gereja-gereja di Indonesia ini menegaskan komitmen gereja untuk hadir bersama rakyat, merawat kehidupan bangsa, dan memperkuat keadilan sosial, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Merauke sebagai tuan rumah MPL PGI 2026. Menurutnya, kehadiran ratusan pimpinan gereja dari seluruh Indonesia bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga pengakuan bahwa Papua Selatan adalah bagian penting dari perjalanan kebangsaan.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Papua Selatan, kami mengucapkan selamat datang kepada Ketua Umum PGI, para Ketua Sinode, dan seluruh peserta sidang. Semoga Merauke memberi ruang yang nyaman untuk berdialog, beribadah, dan merumuskan arah pelayanan gereja ke depan,” ujar Apolo dalam pembukaan sidang di Merauke, Jumat (30/1/2026).
Apolo juga menyinggung kekayaan alam Papua dari perspektif geologi dunia. Ia menyebut Pulau Papua sebagai fault belt atau “sabuk emas”, wilayah khatulistiwa yang menyimpan sumber daya mineral penting. Namun, menurutnya, kekayaan itu harus dimaknai secara etis dan bertanggung jawab, dengan gereja memiliki peran strategis dalam membimbing umat agar kekayaan alam tidak menjadi sumber konflik, melainkan berkat bagi kehidupan bersama.
Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th. dalam sambutannya menekankan makna spiritual Merauke sebagai wilayah “pinggiran” yang justru menjadi tempat Tuhan memulai sesuatu yang baru. Ia menyebut Merauke sebagai tempat matahari pertama menyapa Indonesia, bukan hanya secara geografis, tetapi juga sebagai simbol harapan.
“Dari pinggiran, dari tepian, Tuhan sering memulai karya-Nya. Sidang ini bukan sekadar mandat organisatoris, tetapi persekutuan untuk mendengar luka, tangisan, dan rintihan jemaat dari berbagai wilayah Indonesia,” kata Manuputty.
Sidang MPL PGI 2026 mengusung tema “Hiduplah sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran”, dengan penegasan pada upaya mewujudkan eklesia domestika, gereja yang hidup di rumah-rumah, yang memulihkan kehidupan bangsa dan merawat ciptaan. Tema ini menjadi respons gereja atas berbagai persoalan kemanusiaan, kerentanan keluarga, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sosial.
Bupati Merauke Yoseph B. Gebze, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan sidang nasional ini merupakan kehormatan bagi daerah dan diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat, baik secara sosial, spiritual, maupun kebangsaan. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen mendukung terciptanya suasana aman dan kondusif selama sidang berlangsung.
Sementara itu, Ketua Panitia Soleman Jambormias menjelaskan bahwa MPL PGI 2026 menjadi ruang strategis pertemuan gereja dan pemerintah dalam menjawab tantangan bangsa. Penyelenggaraan di Papua Selatan dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat perhatian nasional terhadap wilayah timur Indonesia.
Sidang MPL PGI 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 2 Februari 2026, dengan agenda pembahasan evaluasi program, rekomendasi pelayanan gereja, serta penguatan peran PGI dalam advokasi kemanusiaan, pendidikan, keluarga, dan Papua. Kehadiran peserta dari berbagai daerah, termasuk wilayah terdampak bencana, menjadi penanda kuat bahwa gereja nasional ingin berjalan bersama seluruh umat, tanpa meninggalkan siapa pun di pinggiran. (LS)