
Dengan sistem ini, petani tidak perlu lagi melakukan penyiraman manual setiap hari
Foto bersama usai pemasangan (Foto: Eja FX)
Merauke, 11 Oktober2025 — Petani di Kampung Sota kini tak lagi harus menenteng ember atau membuka kran air setiap pagi dan sore. Sebab, sistem irigasi di lahan mereka kini bekerja secara otomatis — berkat teknologi Internet of Things (IoT) yang dikembangkan oleh tim dosen Universitas Musamus melalui Program Hibah BIMA 2025.
Program pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Fransiskus Xaverius, S.Kom., M.Kom., bersama anggota Reza Zubaedah, S.Kom., M.Cs., dan Dr. Ling. Irba Djaja, S.P., M.Si., ini menjadi terobosan baru dalam penerapan smart farming di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Lewat sistem ini, kelembapan tanah dipantau secara real-time menggunakan sensor. Ketika kadar air berkurang, sistem otomatis mengaktifkan solenoid valve untuk membuka aliran air. Setelah kelembapan kembali normal, sistem menutup aliran secara mandiri.
Semua dikendalikan melalui NodeMCU dan disuplai energi dari panel surya yang ramah lingkungan dan tetap berfungsi tanpa listrik PLN.
“Dengan sistem ini, petani tidak perlu lagi melakukan penyiraman manual setiap hari. Selain hemat air, tanaman juga tumbuh lebih optimal karena kebutuhan airnya terpenuhi secara tepat,” jelas Fransiskus Xaverius.
Ia menambahkan, penerapan teknologi ini menjadi langkah awal menuju pertanian modern di Papua Selatan. Teknologi ini bukan hanya mempermudah kerja petani, tetapi juga meningkatkan hasil panen tomat dan cabai yang menjadi komoditas utama di Sota.
Melalui kegiatan ini, Universitas Musamus menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta pemberdayaan masyarakat lokal. Penerapan teknologi tepat guna seperti ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dan menginspirasi daerah lain di Papua Selatan untuk berinovasi di sektor pertanian. (LBS)