
Kita biasa cari udang halus di pantai,” katanya sembari menggerakkan tangannya yang terampil.
Mama Florida Mahuze dengan usaha Terasi Udangnya (Foto: IPS)
Info Papua Selatan, Okaba — Di bawah rindangnya pepohonan kampung, beberapa orang berkumpul sederhana di atas bangku kayu. Di tengah lingkaran, seorang ibu duduk bersila sambil memegang sebongkah terasi udang hasil kerja keras yang ia olah sendiri dari pantai Okaba. Di hadapannya, sebuah baskom besar penuh terasi siap jual, dibungkus rapi satu per satu dengan plastik yang ia beli dari uang hasil penjualan sebelumnya.
Dialah Florida Mahuze, perempuan Malind yang tak pernah menyerah pada keadaan. Di sela angin pantai yang menyapu lembut, Florida melanjutkan pekerjaannya menyiapkan pesanan terasi, sementara beberapa orang lainnya ikut menyaksikan dan membantu, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
“Kita biasa cari udang halus di pantai,” katanya sembari menggerakkan tangannya yang terampil. Udang-udang itu ia dapatkan dengan menjaring secara tradisional pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, kekuatan, dan kesetiaan pada alam.
Florida telah melakukan usaha kecil ini sejak lama. Ia tak menunggu bantuan datang; ia bergerak dengan apa yang ia punya. “Dapat uang sedikit dari terasi ini untuk kebutuhan sehari-hari, juga buat beli plastik pembungkus,” ucapnya. Kalimat sederhana yang menggambarkan betapa usaha kecil ini menjadi tulang punggung kehidupannya.
Matahari siang menyinari aktivitas mereka, namun Florida tetap fokus. Tidak ada keluhan, tidak ada rasa putus asa. Bahkan ketika pesanan berdatangan dari Merauke hingga Jakarta, ia tetap berjalan dalam batas kemampuannya.
“Banyak orang pesan, tapi kalau sudah banyak saya tidak bisa penuhi. Saya tidak punya modal cukup. Hanya sebatas kemampuan saya saja,” ungkapnya jujur.
Bagaimana Florida mengolah terasinya dengan penuh ketelitian. Setiap potongan terasi yang ia pegang tampak bukan hanya produk, tetapi cerminan ketabahan seorang ibu yang berjuang dari tanah sendiri. Di sekelilingnya, tampak suasana alam yang hijau, bangku kayu sederhana, dan kebersamaan yang menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarga dan komunitasnya.
Namun, di balik keteguhan itu, harapan juga tumbuh. Semoga pemerintah kampung maupun daerah dapat memberi perhatian pada usaha-usaha lokal seperti ini usaha mama-mama Papua yang sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk memperkuat ekonomi masyarakat dari akar rumput.
Di Okaba, mama Florida terus mengolah terasi dari udang halus pantai selatan, menyimpan harapan dalam setiap bungkus kecil yang ia siapkan. Terasi itu bukan hanya bumbu, tetapi jejak kerja keras, ketekunan, dan cinta pada keluarga serta tanah leluhur. (JR)