“Warna-Warni Kreativitas Merauke di Monumen Kapsul Waktu”

Semoga lewat kegiatan ini bisa melahirkan pelaku-pelaku seni rupa yang terbaik di Kabupaten Merauke

Hasil mewarnai milik oeserta lomba (foto: JR)

Info Papua Selatan, Merauke — Tiupan angin sore menyapu halaman Monumen Kapsul Waktu, membawa suara riuh penonton yang berkumpul menikmati pameran seni rupa dan pagelaran seni budaya Merauke. Sejak dibuka pada 26 November hingga 28 November, area monumental yang biasanya identik dengan sejarah dan simbol persatuan generasi bangsa ini mendadak berubah menjadi ruang penuh warna, guratan, dan harmoni seni lokal.

Kegiatan tersebut menghadirkan para pelaku seni dari berbagai bidang, mulai dari tari dan musik hingga seni rupa. Namun, perhatian pengunjung tampak tertuju pada deretan karya visual yang dipamerkan oleh 12 seniman Merauke. Cat minyak, goresan akrilik, sketsa pensil, hingga karya eksperimental terpampang, menjadi saksi hidup kreativitas anak negeri ujung timur.

Salah satu yang ikut memamerkan karya adalah Stefanus Naraha, salah satu pelaku seni rupa yang cukup dikenal di Merauke. Ia memandang kesempatan ini sebagai ajang penting bagi perkembangan seni rupa di daerah.

“Kegiatan ini sangat baik untuk kami sebagai pelaku seni, karena karya-karya kita bisa ditampilkan,” ujarnya saat ditemui di area pameran, Rabu (26/11).

Stefanus terlihat antusias berbincang dengan pengunjung yang menanyakan makna karyanya. Sesekali, ia tersenyum ketika seorang anak kecil menunjuk lukisannya yang penuh warna. Baginya, apresiasi sekecil apapun menjadi bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan seni.

Lebih dari sekadar memamerkan karya, Stefanus berharap pameran ini mampu membuka ruang lahirnya pelukis-pelukis muda baru di wilayah Merauke.

 “Semoga lewat kegiatan ini bisa melahirkan pelaku-pelaku seni rupa yang terbaik di Kabupaten Merauke,” tambahnya penuh harap.

Harapan itu sejalan dengan kondisi lapangan seni di daerah yang masih memerlukan ruang tampil, pelatihan berkarya, dan sarana apresiasi publik. Pameran ini, menurut Stefanus, bukan hanya ajang pamer, melainkan pintu pembuka bagi talenta baru yang selama ini bekerja dalam senyap.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik Monumen Kapsul Waktu, rona oranye senja memantul pada kanvas-kanvas yang berdiri berjajar. Merauke seakan berbicara melalui warna, bentuk, dan imajinasi para senimannya—mengabarkan bahwa kreativitas di tanah paling timur ini tidak hanya hidup, tetapi juga siap tumbuh dan dikenal lebih luas.(JR)

AGENDA
LINK TERKAIT